
Perusahaan
Layanan
© Copyright 2023 by PT INSTRUMEN INDO UTAMA
Sudah bukan tips rahasia lagi bahwa temperatur atau suhu ruangan sangat penting bagi kondisi kerja laboratorium. Terutama bagi laboratorium biologis, kontrol
Melakukan perawatan dan pemeliharaan pada alat dan barang memang sering bikin repot. Apalagi alat-alat dan barang yang digunakan untuk bekerja di laboratorium. Tetapi, jika Anda bekerja di laboratorium, jangan anggap sepele hal yang satu ini. Anda perlu melakukan preventive maintenance demi mencegah kerusakan-kerusakan mesin yang tidak terduga.
Tentu tidak ada yang ingin pekerjaannya terganggu karena alat laboratorium tidak beroperasi secara optimal. Bahkan, alat laboratorium yang terawat mempengaruhi pembacaan hasil uji.
Perawatan alat laboratorium memberi banyak manfaat jangka panjang dan juga jangka pendek bagi pekerjaan dan hasil kerja Anda di laboratorium. Melakukan perawatan yang teratur ternyata dapat membantu menekan biaya operasional. Yuk, pelajari bagaimana cara yang tepat merawat alat-alat laboratorium.
Seperti yang Anda ketahui, kendaraan bermotor perlu pemeliharaan rutin, seperti penggantian oli, pengecekan massa gas dalam ban dan sebagainya. Alat-alat di laboratorium pun membutuhkan tindakan repair, service, atau preventive maintenance.
Alat-alat laboratorium memang akan usang dimakan waktu dan proses kerja yang terus- menerus. Tapi, alangkah baiknya menggunakan pendekatan pemeliharaan preventif untuk memastikan kinerja serta umur penggunaan alat-alat tersebut.
Pendekatan pemeliharaan preventif untuk alat laboratorium mencakup beberapa langkah yang sangat mendasar, dan perlu dilakukan secara rutin. Yang perlu dilakukan adalah pembersihan umum, pemantauan dan perbaikan, serta penggantian komponen alat yang menunjukkan tanda-tanda kerusakan pada waktu yang tepat. Faktanya keempat hal tersebut masih sering dihiraukan.
Beberapa jenis pembersihan yang direkomendasikan adalah:
Setelah pembersihan, langkah kedua dari perawatan alat laboratorium ini juga tak kalah penting untuk dilakukan. Pemantauan alat laboratorium mencakup inventarisasi peralatan, serta pengkalibrasian setiap alat untuk memastikan standar dan fungsi yang optimal untuk setiap alat.
Jika setelah melakukan inventarisasi dan kalibrasi Anda menemukan ada alat yang kondisinya mulai usang atau fungsinya sudah terganggu, pertimbangkan untuk melakukan repair pada tenaga ahli sebelum membuangnya.
Berkonsultasi dengan manajer lab untuk mengalihkan prosedur ini pada teknisi profesional adalah langkah preventive maintenance terbaik yang dapat Anda lakukan sejak awal.
Secara umum, cara ini dikenal dengan istilah refurbish. Refurbish sederhana dapat dilakukan sendiri dengan tahapan sebagai berikut:
Jika ada bagian atau suku cadang yang memang sudah usang dan tidak dapat diperbaiki, maka usahakan untuk mengganti komponen atau suku cadang terlebih dahulu.
Cermati terlebih dahulu usia dari alat laboratorium, dan berat kerjanya selama Anda gunakan. Berdasarkan hal tersebut, pertimbangkan apakah penggantian alat lebih baik atau penggantian komponen lebih efisien.
Tidak hanya menghemat biaya, tetapi tindakan preventive maintenance memberi pengaruh pada kinerja peralatan laboratorium. Pemantauan kondisi peralatan akan berimbas pada optimasi kinerja alat-alat tersebut. Tentunya, hal ini akan berpengaruh pada akurasi dan kualitas hasil uji yang dilakukan di laboratorium.
Jika Anda juga ingin berusaha menekan risiko downtime (waktu henti) pada pengoperasioan peralatan laboratorium, maka pendekatan perawatan alat laboratorium ini perlu dilakukan secara teratur. Dengan demikian, hasil uji di laboratorium lebih akurat dan semua pekerjaan di dalamnya berjalan lancar.
Untuk informasi lebih lanjut hal-hal mendalam mengenai jasa preventif maintenance alat laboratorium, anda bisa menghubungi kami.
Referensi:
Pekerjaan di laboratorium memang memiliki daya tarik sekaligus tantangan. Tetapi sayangnya berbagai kegiatan uji coba dikelilingi alat canggih dan berbagai bahan kimia ini menyembunyikan risiko kesehatan.
Kebakaran hanya satu dari bahaya yang mengintai ketika bekerja di laboratorium. Untuk itulah SOP dan sistem kerja serta preventive maintenance atau bahkan repairment terhadap peralatan khusus laboratorium yang baik diperlukan. Tetapi, tanpa sadar kesehatan anda juga dipertaruhkan jika terlalu sering menghirup zat-zat kimia.
Kenali berbagai bahaya menghirup uap dan gas zat kimia di laboratorium agar Anda bisa mencegah efek buruknya lebih awal.
Normalnya, zat-zat kimia berbentuk aerosol (seperti asap, kabut, dan bau), gas, partikel dan uap adalah zat yang terhirup. Kondisi zat-zat tersebut bisa saja dalam keadaan murni atau telah tercampur dengan zat kimia lain.
Menghirup uap atau gas zat kimia ketika bekerja di laboratorium dapat menghasilkan efek jangka pendek yang terlihat dengan cepat ketika tubuh atau organ tubuh terpapar.
Efek langsung yang mungkin muncul ketika Anda menghirup uap atau gas dengan dosis atau konsentrasi tertentu dengan sengaja atau tidak, adalah:
Zat-zat yang terhirup tersebut akan melewati saluran pernafasan untuk masuk dalam tubuh. Alih-alih hanya menumpang lewat di saluran pernafasan, nyatanya zat-zat tersebut bisa saja terserap aliran darah atau terangkut dan mengendap di organ tubuh lain.
Jika terjadi terus-menerus, maka zat kimia yang terhirup dapat mengendap dan berdampak buruk bagi kesehatan secara jangka panjang dan pendek. Faktor lain dapat mempengaruhi berat ringannya risiko yang timbul akibat menghirup zat kimia.
Diantaranya adalah sifat kimia dari zat tersebut, ukuran partikel materinya serta konsentrasinya di udara yang Anda hirup, intensitas kelarutan dan tekanan uap dari bahan kimia tersebut.
Secara sederhana, ada beragam pelarut kimia yang sangat beracun jika terhirup. Efek jangka pendeknya bisa berupa iritasi hidung, tenggorokan, mata juga paru-paru, peningkatan produksi lendir hingga sakit kepala.
Iritasi pada mulut, hidung dan tenggorokan dapat disebabkan oleh gas yang mudah larut seperti klorin dan ammonia. Keduanya juga dapat menyebabkan iritasi pada paru-paru jika terhirup terlalu dalam.
Paparan uap atau gas bahan kimia yang konstan terjadi juga bisa menimbulkan efek seperti pada penggunaan narkotik, yaitu pusing, mengantuk, kebingungan hingga pingsan. Tetapi, yang lebih berbahaya adalah risiko jangka panjang yang kerap tidak terlihat dan terdeteksi lebih awal.
Gas yang tidak mudah larut seperti sulfur dioksida, fosgen dan nitrogen dioksida dapat menyebabkan iritasi yang parah pada paru-paru.
Nitrogen dioksida tidak menunjukkan gejala awal paparan seperti iritasi pada organ tubuh lain (hidung, mulut dan tenggorokan) karena kemungkinan terhirup ke dalam hingga mencapai paru-paru. Akibatnya, paparan tersebut bisa memicu penumpukan cairan (edema paru-paru), dan bronkiolitis (peradangan pada saluran pernafasan kecil).
Pada kasus yang lebih gawat, gas-gas dan uap bahan kimia, seperti senyawa arsenik dan hidrokarbon, menumpuk dalam organ tubuh. Karena paparan pada jangka waktu yang panjang dapat memicu kanker pada paru-paru bahkan pada organ tubuh lain (tergantung jenis zat yang terhirup).
Tidak jarang risiko-risiko di atas disebabkan kelalaian dalam menaati peraturan dan standar kerja di laboratorium. Berdasarkan ulasan tersebut, Anda tentu setuju bahwa melakukan tindakan pencegahan seoptimal mungkin adalah usaha yang terbaik untuk menjaga kesehatan dan keselamatan kerja laboratorium.
Oleh karena itu, penetapan peraturan dan standar kerja di laboratorium patut diterapkan dan dievaluasi secara berkala. Khususnya untuk perawatan alat laboratorium, reagen kimia sesuai kategori, pelabelan bahan kimia dan pembaruan lembar data keselamatan.
Referensi:
Penggantian alas lemari asam merupakan langkah penting dalam menjaga keselamatan dan fungsionalitas lemari asam. Berikut adalah beberapa alasan mengapa
Artikel ini membahas bagaimana laboratorium diagnostik bertransformasi di era telemedicine, tantangan yang dihadapi, dan potensi yang ditawarkan untuk meningkatkan layanan kesehatan.
High Volume Air Sampler (HVAS) merupakan salah satu metode yang digunakan dalam pemantauan kualitas udara.
Spektrometer merupakan salah satu alat analisis yang sangat penting dalam kimia analitik. Alat ini digunakan untuk mengukur interaksi antara cahaya dan materi, sehingga dapat memberikan informasi mengenai struktur, konsentrasi, dan sifat fisik maupun kimia suatu senyawa.
pH meter merupakan alat laboratorium yang digunakan untuk mengukur tingkat keasaman atau kebasaan suatu larutan. Alat ini banyak digunakan di berbagai bidang, seperti industri makanan dan minuman, farmasi, laboratorium kimia, serta penelitian lingkungan. Oleh karena itu, menjaga akurasi dan daya tahan pH meter sangat penting untuk memastikan hasil pengukuran yang tepat dan konsisten.
Artikel ini membahas peran High Volume Air Sampler (HVAS) dalam penelitian kualitas udara dalam ruang (Indoor Air Quality), termasuk cara mengoptimalkan penggunaannya.
© Copyright 2023 by PT INSTRUMEN INDO UTAMA
