
Perusahaan
Layanan
© Copyright 2023 by PT INSTRUMEN INDO UTAMA
Laboratorium sangat krusial bagi proses manusia dalam perkembangan sains dan teknologi.
Pekerjaan di laboratorium memang memiliki daya tarik sekaligus tantangan. Tetapi sayangnya berbagai kegiatan uji coba dikelilingi alat canggih dan berbagai bahan kimia ini menyembunyikan risiko kesehatan.
Kebakaran hanya satu dari bahaya yang mengintai ketika bekerja di laboratorium. Untuk itulah SOP dan sistem kerja serta preventive maintenance atau bahkan repairment terhadap peralatan khusus laboratorium yang baik diperlukan. Tetapi, tanpa sadar kesehatan anda juga dipertaruhkan jika terlalu sering menghirup zat-zat kimia.
Kenali berbagai bahaya menghirup uap dan gas zat kimia di laboratorium agar Anda bisa mencegah efek buruknya lebih awal.
Normalnya, zat-zat kimia berbentuk aerosol (seperti asap, kabut, dan bau), gas, partikel dan uap adalah zat yang terhirup. Kondisi zat-zat tersebut bisa saja dalam keadaan murni atau telah tercampur dengan zat kimia lain.
Menghirup uap atau gas zat kimia ketika bekerja di laboratorium dapat menghasilkan efek jangka pendek yang terlihat dengan cepat ketika tubuh atau organ tubuh terpapar.
Efek langsung yang mungkin muncul ketika Anda menghirup uap atau gas dengan dosis atau konsentrasi tertentu dengan sengaja atau tidak, adalah:
Zat-zat yang terhirup tersebut akan melewati saluran pernafasan untuk masuk dalam tubuh. Alih-alih hanya menumpang lewat di saluran pernafasan, nyatanya zat-zat tersebut bisa saja terserap aliran darah atau terangkut dan mengendap di organ tubuh lain.
Jika terjadi terus-menerus, maka zat kimia yang terhirup dapat mengendap dan berdampak buruk bagi kesehatan secara jangka panjang dan pendek. Faktor lain dapat mempengaruhi berat ringannya risiko yang timbul akibat menghirup zat kimia.
Diantaranya adalah sifat kimia dari zat tersebut, ukuran partikel materinya serta konsentrasinya di udara yang Anda hirup, intensitas kelarutan dan tekanan uap dari bahan kimia tersebut.
Secara sederhana, ada beragam pelarut kimia yang sangat beracun jika terhirup. Efek jangka pendeknya bisa berupa iritasi hidung, tenggorokan, mata juga paru-paru, peningkatan produksi lendir hingga sakit kepala.
Iritasi pada mulut, hidung dan tenggorokan dapat disebabkan oleh gas yang mudah larut seperti klorin dan ammonia. Keduanya juga dapat menyebabkan iritasi pada paru-paru jika terhirup terlalu dalam.
Paparan uap atau gas bahan kimia yang konstan terjadi juga bisa menimbulkan efek seperti pada penggunaan narkotik, yaitu pusing, mengantuk, kebingungan hingga pingsan. Tetapi, yang lebih berbahaya adalah risiko jangka panjang yang kerap tidak terlihat dan terdeteksi lebih awal.
Gas yang tidak mudah larut seperti sulfur dioksida, fosgen dan nitrogen dioksida dapat menyebabkan iritasi yang parah pada paru-paru.
Nitrogen dioksida tidak menunjukkan gejala awal paparan seperti iritasi pada organ tubuh lain (hidung, mulut dan tenggorokan) karena kemungkinan terhirup ke dalam hingga mencapai paru-paru. Akibatnya, paparan tersebut bisa memicu penumpukan cairan (edema paru-paru), dan bronkiolitis (peradangan pada saluran pernafasan kecil).
Pada kasus yang lebih gawat, gas-gas dan uap bahan kimia, seperti senyawa arsenik dan hidrokarbon, menumpuk dalam organ tubuh. Karena paparan pada jangka waktu yang panjang dapat memicu kanker pada paru-paru bahkan pada organ tubuh lain (tergantung jenis zat yang terhirup).
Tidak jarang risiko-risiko di atas disebabkan kelalaian dalam menaati peraturan dan standar kerja di laboratorium. Berdasarkan ulasan tersebut, Anda tentu setuju bahwa melakukan tindakan pencegahan seoptimal mungkin adalah usaha yang terbaik untuk menjaga kesehatan dan keselamatan kerja laboratorium.
Oleh karena itu, penetapan peraturan dan standar kerja di laboratorium patut diterapkan dan dievaluasi secara berkala. Khususnya untuk perawatan alat laboratorium, reagen kimia sesuai kategori, pelabelan bahan kimia dan pembaruan lembar data keselamatan.
Referensi:
© Copyright 2023 by PT INSTRUMEN INDO UTAMA
